Malam.
Dari gambar di atas mungkin bisa disimpulkan sendiri apa yang sedang saya lakukan.
Ya. Saya nge-rawis bahan supaya bisa dijadiin jilbab :"D Ini dalam rangka memenuhi order-an temen-temen...
Sumpah ya. Ngerawis 3 jilbab (4 sisi x 3) itu butuh waktu 4 jam, dari jam 5 sore - 9 malem bro. Tough banget ga sih :"D
Yang jelas, my room is like my own office tonight haha. And it feels like I'm a fresh-businesswoman that hasn't have any employee yet haha.
Tapi ga lah. Sebenarnya ini proyek gue sama 2 temen gue dalam rangka nyari uang danus (dana usaha) untuk kegiatan di fakultas kita. Jadi ngerawisnya dibagi 3 lah. Semua bahan ada 18. Berarti each of us ngerawis 6 jilbab. Dan itu butuh waktu yang ga sebentar guys haha :")
Tapi gapapa. Semangat cari uang!! I love making moneyy. Hwaiting!!!
Life is like a game. If you fail, just try again. Make a highscore. But do not click the quit button. Cause life has NO QUIT
Selasa, 24 Juni 2014
Minggu, 22 Juni 2014
WHERE'S MY REAL HOLIDAY??
Assalamualaikum
Dari hari Kamis minggu lalu, gue udah fix kelar uas. Dan artinya? Holiday finally comesss. Tapi, ada beberapa amanah yang mesti dilakuin selama liburan. Dan selama seminggu lebih libur ini, gue belum merasakan liburan yang sesungguhnya a.k.a jalan-jalan dan bertamasya :'(
Ada 2 kepanitiaan yang harus diurus selama liburan soalnya. Pertama, gue alhamdulillah diamanahin jadi PJ Bazaar murah gitu di sebuah kegiatan. Yang ini sih, masih kerja dikit-dikit aja sekarang. Nah yang kedua. Nah ini nih.. Ini nih yang bikin seminggu gue lelah dan kaki pegal-pegal... Gue jadi Wa-PJ Danus sebuah kegiatan juga. Dan harus ngumpulin 5 juta. Sebenarnya acaranya masih lama sih, dan gue yakin pasti bakal dapet lah 5 juta *gue gitu*. Tapi, kan segala sesuatu harus dicicil, friends.
Nah, oleh karena itu, liburan ini gue udah isi dengan Garage Sale tiap hari Minggu, hunting jilbab-jadi di Tanah Abang (yang hasilnya nihil karena udah ga pasaran menurut pedagang-pedagangnya... Padahal anak farmasi banyak yang ngincer jilbab ituu a.k.a jilbab rawis linen namanya). Terus akhirnya nyari bahannya langsung aja di mayestik. Lumayan biar untungnya lebih bayak haha. Dan alhamdulillah di mayestik bahannya masih cukup ada di beberapa toko.
Selain itu, gue juga suka bantu-bantu mama di acara-acara komplek gitu. Walaupun niatnya setengah-setengah, tapi gue tipe orang yang masih percaya selama lo masih bantu orangtua, suatu waktu urusan lo bakal dimudahkan haha. Rencananya mau bantu tetangga juga yang lagi ikutan lomba Produksi Obat Herbal gitu. Haha jago banget ini tetangga gue :')
Sebenarnya ada 1 lagi ide buat fund raising.Yaitu jadi joki buat ngerjain tugas mind map temen-temen yang lagi SP IBD (Semester pendek mata kuliah Ilmu Biomedik Dasar). Haha itu gila banget. Hmm tapi sebenarnya cukup bisa dipertimbangkan, sih... Wkwk
Oh iya, gue juga lagi belajar permainan bridge nih dari temen.. Lumayan lah ngisi waktu. Kalau ada waktu kosong, biasanya gue isi dengan memakai aplikasi di hp gue wkwk -_- Contohnya ngisi berbagai tipe soal TOEFL, main Cookie Run, main Bridge, main Capsa *main semua ini mah*
Itu lah segelintir kegiatan gue selama seminggu lebih ini. Doakan aja supaya dana yang dibutuhkan cepat terkumpul dan semoga pengalaman-pengalaman ini bermanfaat untuk hidup gue ke depannya. Oh iya dan semoga kegiatan main game ga penting gue di atas juga bisa bermanfaat!! Amiin.
Sabtu, 21 Juni 2014
Bersuara untuk Mereka
I appreciate all people's occupation. Sekali pun itu pedagang asongan di lampu merah yang mungkin bagi kita annoying yang jualan barang yang bisa dibilang ga jelas buat apa.
But, hey. Sombong banget kita, bisa ngeremein mereka.
Kalo pernah punya pengalaman yang sama kayak mereka sih, gapapa. Tapi kalo kita belum pernah ngerasain jualan di lampu merah??? Kita bisa seenaknya nge-judge mereka gitu?
Emang sih gue ga suka banget sama istilah Don't judge a book by its cover, kayak kata Abdur (finalis SUCI 4) bilang. Tapi, gue juga adalah seorang pedagang kecil. Gue sering beberapa kali jadi panitia bidang Dana Usaha. Jadi gue tahu perasaan pedagang. Jadi pedagang itu susah bro.. Sedih juga kalo dagangan ga laku. Udah sedih, mana dagangnya di jalanan lagi. Panas, bau knalpot, bau asep yang ngotorin paru-paru. Susah kan? Dan itu ga cuma sekali. Gimana kalo TIAP HARI?
It's hard, broo.
Jangan asal ngerendahin pedagang asongan. Gue hargai kok tiap profesi orang. Asalkan mereka masih mau usaha, mah..
Mungkin yang harus dikritisi adalah, mereka ga dapet tempat yang layak untuk berjualan dan mencari uang. Ada pihak-pihak yang tidak mempermudah mereka berdagang. Ada pihak yang tidak menyediakan fasilitas untuk mereka berjualan.
Hmmm.. So? Kira-kira di sini yang perlu dievaluasi siapa yah?? I'm sure you know laah..
Ada Masa
Sepanjang 18 tahun saya hidup, ada masa yang saya sangat benci sampai sekarang.
Spesifically, masa itu adalah 3 tahun dimana saya mengenyam suatu tingkat pendidikan.
Saya merasa masa itu adalah masa tersia-sia saya, masa terbodoh saya, masa terbuang-buang waktu, masa yang terlalu memaksakan diri, masa dimana pergaulan yang saya pilih membuat saya tidak mau belajar, masa dimana saya terlalu banyak gaya, masa dimana saya sombong karena 3 tahun sebelumnya saya adalah orang yang dikenal baik dan berprestasi, masa yang membuat tempat mengenyam pendidikan selanjutnya yang saya dapatkan tidak memuaskan saya.
Yang jelas, jika waktu bisa diulang. Saya ingin sekali mengulang pra-masa itu lalu memilih jalan yang tepat. Bisa dengan tidak memilih sekolah itu, bisa juga dengan memilih teman sepergaulan yang lebih baik, dan sebagainya.
Tapi, tetap. Yang namanya waktu, mana ada yang bisa dibeli lagi. Life goes on. Tetap, saya tidak mau menyesali apa-apa yang sudah terjadi dalam hidup saya. Karena semua itu adalah yang membentuk pribadi saya seperti sekarang.
Setelah masa itu, saya bisa menjadi lebih disiplin. Lebih perasa, walaupun sedikit. Lebih menjadi hard worker, pastinya. Karena saya merasa gagal saat masa-masa itu sehingga sekarang saya tidak akan mau mengulang kesalahan yang sama. Saya akan terus belajar, apa pun itu. Saya tidak akan mau lari dari masalah. Saya ingin menghadapinya. Karena itu lah gunanya. Masalah adalah untuk dihadapi. Gagal maupun sukses menghadapi masalah tersebut, kita bisa belajar dari prosesnya. Tentunya supaya bisa lebih mengurangi kegagalan di masa depan. Dan karena masa itu, karena peran beberapa orang, saya bisa menjadi lebih kuat. Saya menjadi lebih tegas. Lebih dewasa. Lebih optimis. Lebih menghargai hidup. Dan saya menjadi orang yang ingin cepat menghapus luka dan bergegas melanjutkan hidup sedalam apa pun pedihnya masa lalu atau apa dan siapa pun yang menyakiti.
So, I appereciate all the time I have passed. Because I need it for being a better moslem.
Jika Saya Boleh Bermimpi...
Kalau saya boleh bermimpi, saya ingin sekali menjadi orang yang berguna untuk bangsa, negara, bahkan dunia.
Saya ingin sekali dikenal dunia karena kebaikan maupun kesuksesan saya.
Saya ingin sekali menjadi seorang pengusaha sukses, guru dan dosen, traveler, dan penulis. Setidaknya okupasi-okupasi tersebutlah yang selalu saya panjatkan di setiap doa-sehabis-solat saya.
Dan kalau boleh, saya ingin sekali membahagiakan orangtua saya bagaimana pun caranya. Walaupun saya tahu, saya sering sekali mengecewakan mereka secara sadar.
Kalau boleh, saya ingin sekali TOEFL saya lebih dari 600. Saya ingin memperoleh beasiswa terutama ke Massachussets Institute of Technology di Amerika Serikat sana. Dan tentunya menjelajah dunia juga. Boleh kan saya bermimpi sebesar itu, ya Allah?
Dan impian paling besar saya adalah dapat melahirkan anak-anak yang sholeh, sholehah, cantik, dan ganteng.
Sekali lagi. Boleh kan saya bermimpi setinggi itu, ya Allah?
Selasa, 10 Juni 2014
IF I WERE A TOURIST HERE
Pernah bayangin ga seandainya kita jadi turis asing di Indonesia?
I have.
I thought it when I was in the way home from Soekarno-Hatta airport. Pas baru balik dari Hongkong. Aku dan bapak dijemput mama buat pulang ke Depok. Ya namanya orang baru pertama kali ke luar negeri dalam keadaan sadar, tentunya kepikiran terus dong saat-saat di luar negerinya. Lalu gue merenung........
Hmm. Pas baru nyampe HK, pas otw dari bandara HK ke hotel, gue liat-liat pemandangan ke jalan, ke bukit-bukit, ke kereta yang berjalan, ke taksi yang ada tulisan mandarinnya, ke bis bertingkat, dari jendela travel yang gue naiki. Kalo seandainya gue melakukan hal itu di Indonesia dengan status gue adalah turis dari Amerika gimana ya? Seandainya gue melakukan hal yang sama dari bandara Soetta menuju hotel di Jakarta gimana ya?
Lalu gue melihat ke luar jendela mobil membayangkan..
Berarti otomatis gue pasti ngeliat pemandangan ini dulu. Pemandangan jalan dari bandara menuju kota. Nah abis itu? Gue lihat Jakarta's look dong pastinya. Gue melihat gedung-gedungnya, taksinya, bis yang ada tulisan alfabetnya bertuliskan Kopaja, atau Metromini, atau Deborah, yang asapnya kontras dengan cahaya matahari tropis yang menyinari bumi, sungainya, dan... Eh bentar. Sungai? HAHAHA. Gimana ya tanggepan gue kalo ngeliat sungai di Jakarta? Coklat, banyak sampah, ada orang buang sampah, ada plastik-plastik sampah yang dari jauh kayak bakteri-bakteri di sebuah genangan coklat. Coklatnya itu loh. COKLAT. Sebuah pemandangan baru dan pengalaman berharga yang baru gue lihat berbeda di negeri gue pasti seandainya gue adalah seorang turis. Eh terus abis liat itu, gue tulis di blog ini juga. Hahaha.
Sebenarnya hakikat dan esensi gue menulis ini adalah mengajak orang lain untuk merenungi bagaimana keadaan negeri milik kita sendiri ini. Khususnya ibukotanya. Jujur, gue agak malu sendiri dengan Jakarta. Bahkan sampai sekarang, gue lega karena bukan termasuk penduduk Jakarta (no offense ya buat Jakarta-ers). Sujud syukur gue karena gue pernah tinggal di Jakarta cuma 1 semester. Itu pun gue masih kelas 2 SD. Itu pun numpang di rumah nenek gue hahaha.
Pokoknya ada rasa lega dikit gitu lah. Gue ga tinggal di kota yang mall-mallnya keren, eh tapi belakangnya banyak atep-atep yang gentengnya kumuh, jelek, coklat muda, berantakan.
Di kota yang elitnya cuma di beberapa titik doang, padahal banyakan rumah-rumah yang maksa di pinggir sungai sama di pinggiran rel kereta tuh.
Di kota yang tiap tahun ada seaworld gratisnya, warna coklat. Katanya sih gara-gara intensitas hujannya tinggi sob. Hmm. Emang mau sampe kapan nyalahin alam?
Di kota yang kendaraan pribadinya make jalur khusus bis transportasi umumnya gitu.
Di kota yang lalu lintasnya amburadul. Mau nyebrang serem. Mau jadi pengendara motor yang rem mendadak terus gara-gara kaget tiba-tiba ada yang nyebrang juga serem. Terus juga kadang trotoarnya multifunction juga ga cuma buat pedestrian, tapi juga bisa untuk motor. Mungkin sebentar lagi ada teknologi mobil baru yang dibeli dari Jepang, yang muat juga di trotoar itu.
Ibaratnya cookies di game cookie run. Cookies tipe Jakarta ini terlalu banyak powernya. Powernya itu yang gue tulis di paragraf barusan.
Yaah pokoknya bersyukur deh gue ga tinggal di kota itu. Menurut gue itu terlalu amazing. Tapi mungkin tinggal tunggu waktu aja, kota-kota tetangganya ketularan juga dengan powers dari Ibukota Jakarta.
I have.
I thought it when I was in the way home from Soekarno-Hatta airport. Pas baru balik dari Hongkong. Aku dan bapak dijemput mama buat pulang ke Depok. Ya namanya orang baru pertama kali ke luar negeri dalam keadaan sadar, tentunya kepikiran terus dong saat-saat di luar negerinya. Lalu gue merenung........
Hmm. Pas baru nyampe HK, pas otw dari bandara HK ke hotel, gue liat-liat pemandangan ke jalan, ke bukit-bukit, ke kereta yang berjalan, ke taksi yang ada tulisan mandarinnya, ke bis bertingkat, dari jendela travel yang gue naiki. Kalo seandainya gue melakukan hal itu di Indonesia dengan status gue adalah turis dari Amerika gimana ya? Seandainya gue melakukan hal yang sama dari bandara Soetta menuju hotel di Jakarta gimana ya?
Lalu gue melihat ke luar jendela mobil membayangkan..
Berarti otomatis gue pasti ngeliat pemandangan ini dulu. Pemandangan jalan dari bandara menuju kota. Nah abis itu? Gue lihat Jakarta's look dong pastinya. Gue melihat gedung-gedungnya, taksinya, bis yang ada tulisan alfabetnya bertuliskan Kopaja, atau Metromini, atau Deborah, yang asapnya kontras dengan cahaya matahari tropis yang menyinari bumi, sungainya, dan... Eh bentar. Sungai? HAHAHA. Gimana ya tanggepan gue kalo ngeliat sungai di Jakarta? Coklat, banyak sampah, ada orang buang sampah, ada plastik-plastik sampah yang dari jauh kayak bakteri-bakteri di sebuah genangan coklat. Coklatnya itu loh. COKLAT. Sebuah pemandangan baru dan pengalaman berharga yang baru gue lihat berbeda di negeri gue pasti seandainya gue adalah seorang turis. Eh terus abis liat itu, gue tulis di blog ini juga. Hahaha.
Sebenarnya hakikat dan esensi gue menulis ini adalah mengajak orang lain untuk merenungi bagaimana keadaan negeri milik kita sendiri ini. Khususnya ibukotanya. Jujur, gue agak malu sendiri dengan Jakarta. Bahkan sampai sekarang, gue lega karena bukan termasuk penduduk Jakarta (no offense ya buat Jakarta-ers). Sujud syukur gue karena gue pernah tinggal di Jakarta cuma 1 semester. Itu pun gue masih kelas 2 SD. Itu pun numpang di rumah nenek gue hahaha.
Pokoknya ada rasa lega dikit gitu lah. Gue ga tinggal di kota yang mall-mallnya keren, eh tapi belakangnya banyak atep-atep yang gentengnya kumuh, jelek, coklat muda, berantakan.
Di kota yang elitnya cuma di beberapa titik doang, padahal banyakan rumah-rumah yang maksa di pinggir sungai sama di pinggiran rel kereta tuh.
Di kota yang tiap tahun ada seaworld gratisnya, warna coklat. Katanya sih gara-gara intensitas hujannya tinggi sob. Hmm. Emang mau sampe kapan nyalahin alam?
Di kota yang kendaraan pribadinya make jalur khusus bis transportasi umumnya gitu.
Di kota yang lalu lintasnya amburadul. Mau nyebrang serem. Mau jadi pengendara motor yang rem mendadak terus gara-gara kaget tiba-tiba ada yang nyebrang juga serem. Terus juga kadang trotoarnya multifunction juga ga cuma buat pedestrian, tapi juga bisa untuk motor. Mungkin sebentar lagi ada teknologi mobil baru yang dibeli dari Jepang, yang muat juga di trotoar itu.
Ibaratnya cookies di game cookie run. Cookies tipe Jakarta ini terlalu banyak powernya. Powernya itu yang gue tulis di paragraf barusan.
Yaah pokoknya bersyukur deh gue ga tinggal di kota itu. Menurut gue itu terlalu amazing. Tapi mungkin tinggal tunggu waktu aja, kota-kota tetangganya ketularan juga dengan powers dari Ibukota Jakarta.
Langganan:
Komentar (Atom)
