Selasa, 10 Juni 2014

IF I WERE A TOURIST HERE

Pernah bayangin ga seandainya kita jadi turis asing di Indonesia?

I have. 

I thought it when I was in the way home from Soekarno-Hatta airport. Pas baru balik dari Hongkong. Aku dan bapak dijemput mama buat pulang ke Depok. Ya namanya orang baru pertama kali ke luar negeri dalam keadaan sadar, tentunya kepikiran terus dong saat-saat di luar negerinya. Lalu gue merenung........

Hmm. Pas baru nyampe HK, pas otw dari bandara HK ke hotel, gue liat-liat pemandangan ke jalan, ke bukit-bukit, ke kereta yang berjalan, ke taksi yang ada tulisan mandarinnya, ke bis bertingkat, dari jendela travel yang gue naiki. Kalo seandainya gue melakukan hal itu di Indonesia dengan status gue adalah turis dari Amerika gimana ya? Seandainya gue melakukan hal yang sama dari bandara Soetta menuju hotel di Jakarta gimana ya?

Lalu gue melihat ke luar jendela mobil membayangkan..

Berarti otomatis gue pasti ngeliat pemandangan ini dulu. Pemandangan jalan dari bandara menuju kota. Nah abis itu? Gue lihat Jakarta's look dong pastinya. Gue melihat gedung-gedungnya, taksinya, bis yang ada tulisan alfabetnya bertuliskan Kopaja, atau Metromini, atau Deborah, yang asapnya kontras dengan cahaya matahari tropis yang menyinari bumi, sungainya, dan... Eh bentar. Sungai? HAHAHA. Gimana ya tanggepan gue kalo ngeliat sungai di Jakarta? Coklat, banyak sampah, ada orang buang sampah, ada plastik-plastik sampah yang dari jauh kayak bakteri-bakteri di sebuah genangan coklat. Coklatnya itu loh. COKLAT. Sebuah pemandangan baru dan pengalaman berharga yang baru gue lihat berbeda di negeri gue pasti seandainya gue adalah seorang turis. Eh terus abis liat itu, gue tulis di blog ini juga. Hahaha.


Sebenarnya hakikat dan esensi gue menulis ini adalah mengajak orang lain untuk merenungi bagaimana keadaan negeri milik kita sendiri ini. Khususnya ibukotanya. Jujur, gue agak malu sendiri dengan Jakarta. Bahkan sampai sekarang, gue lega karena bukan termasuk penduduk Jakarta (no offense ya buat Jakarta-ers). Sujud syukur gue karena gue pernah tinggal di Jakarta cuma 1 semester. Itu pun gue masih kelas 2 SD. Itu pun numpang di rumah nenek gue hahaha.

Pokoknya ada rasa lega dikit gitu lah. Gue ga tinggal di kota yang mall-mallnya keren, eh tapi belakangnya banyak atep-atep yang gentengnya kumuh, jelek, coklat muda, berantakan.
Di kota yang elitnya cuma di beberapa titik doang, padahal banyakan rumah-rumah yang maksa di pinggir sungai sama di pinggiran rel kereta tuh.
Di kota yang tiap tahun ada seaworld gratisnya, warna coklat. Katanya sih gara-gara intensitas hujannya tinggi sob. Hmm. Emang mau sampe kapan nyalahin alam?
Di kota yang kendaraan pribadinya make jalur khusus bis transportasi umumnya gitu.
Di kota yang lalu lintasnya amburadul. Mau nyebrang serem. Mau jadi pengendara motor yang rem mendadak terus gara-gara kaget tiba-tiba ada yang nyebrang juga serem. Terus juga kadang trotoarnya multifunction juga ga cuma buat pedestrian, tapi juga bisa untuk motor. Mungkin sebentar lagi ada teknologi mobil baru yang dibeli dari Jepang, yang muat juga di trotoar itu.

Ibaratnya cookies di game cookie run. Cookies tipe Jakarta ini terlalu banyak powernya. Powernya itu yang gue tulis di paragraf barusan.

Yaah pokoknya bersyukur deh gue ga tinggal di kota itu. Menurut gue itu terlalu amazing. Tapi mungkin tinggal tunggu waktu aja, kota-kota tetangganya ketularan juga dengan powers dari Ibukota Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar