Kamis, 21 Agustus 2014

Kritisi Film The Prince of Egypt



Tadi siang menjelang sore, gue lagi ngubek-ngubek jadwal film di HBO. Lagi bosen dan pengen nonton sesuatu. Lalu gue lihat ada film berjudul The Prince of Egypt. Sinopsisnya menceritakan kartun musikal mengenai kisah hidup Nabi Musa gitu.

Karena penasaran, gue pun setel aja. (Perhatian: gue pake TV kabel Groo*via TV yang punya kelebihan di rekamannya, makanya gue bisa nonton program tv apa pun yang udah seminggu kelewatan).

Dan dugaan gue bener. Film itu polesan film Hollywood, soalnya yang nge-produksi itu Dreamworks dan tipe gambarnya mirip banget sama tipe Pocahontas gitu. Nih kalo ga percaya, gue punya gambarnya.



Mirip kan? (udah bilang aja mirip)

Gue sempet dilema gitu. Tonton ga ya.. Soalnya takut menyesatkan (ini sih pasti, soalnya kan Hollywood), tapi di sisi lain gue pengen tahu juga kisah Nabi Musa menurut referensi mereka (Yahudi atau Amerika ataupun pembuat cerita nya sendiri).

Akhirnya gue pun nonton deh hehe. Tapi, selama nonton pun, gue juga sempet pause-pause-in juga buat browsing mengenai film ini. Ini demi mencegah gue melihat adegan yang ga diinginkan, contoh: kalo ada scene yang memperlihatkan wujud Allah ala mereka, gue bisa tutup mata dan cepetin filmnya.

Gue pun brosing. Dan gue pun menemukan artikel yang berbunyi:

Republika Online edisi:
02 Feb 1999

Film The Prince of Egypt dan The Siege Lecehkan Islam
NEW YORK -- Masih saja ada kalangan masyarakat Barat yang menjadikan Islam
sebagai sasaran pelecehan. Bukan cuma di arena politik dan ekonomi, melainkan
juga hiburan. Yang terakhir ini terbukti dengan beredarnya dua film produksi
Hollywood -- The Prince of Egypt dan The Siege -- yang menyudutkan Islam.
Atas dasar itu, H Syamsi Ali, seorang cendekiawan Muslim asal Indonesia di New
York, AS, dua hari lalu (31/1) mengusulkan agar Badan Sensor Film (BSF)
melarang pemutaran film The Siege dan The Prince of Egypt di Indonesia.
Alasannya, menurut Syamsi, karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama
Islam.
Syamsi menambahkan masyarakat Islam AS yang tergabung dalam Dewan Hubungan
Islam-Amerika (CAIR) juga telah menentang peredaran kedua film tersebut. Di
luar AS, Pemerintah Malaysia dan Maladewa juga telah mengeluarkan larangan
beredarnya /The Prince of Egypt.
Menurut Syamsi Ali, jalan cerita film tersebut menghujat Islam. Kini kedua
film itu tengah diputar di bioskop-bioskop AS, dan sedang diekspor ke
mancanegara.



Dalam The Prince of Egypt, yang jadi persoalan adalah digambarkannya
tokoh Nabi Musa. Padahal, Islam melarang penggambaran visual para nabi, apa
lagi Tuhan.
Prince of Egypt memang menceritakan riwayat Nabi Musa yang divisualkan mulai
dari bayi merah sampai remaja dan menjadi pemimpin Bani Israel, cikal bakal
Umat Yahudi. ''Ini prinsip kaidah Islam yang dilanggar film The Prince of
Egypt,'' tegas Syamsi Ali yang bekerja di Perwakilan Tetap RI untuk PBB itu.
Selain itu, Syamsi juga mencium propaganda kaum Yahudi di balik film tersebut.
The Prince of Egypt dinilai Syamsi mempunyai agenda untuk menokohkan Musa
sebagai pemimpin Yahudi, bukannya sebagai nabi yang memperjuangkan moralitas
dan menegakkan ajaran Tuhan.
''Film itu hendak menggambarkan bahwa Yahudi-lah pemimpin dunia, dan umat-umat
yang lain adalah hamba atau budaknya. Ini doktrin Yahudi yang secara rapi
diselipkan dalam film animasi Hollywood itu,'' cetus Syamsi Ali.
Menurut Syamsi Ali, Musa adalah nabi yang diakui oleh umat Islam. Bersama-sama
dengan nabi lainnya, Musa menjadi tokoh yang dihormati dan diteladani oleh
kaum Muslimin. Bahkan, dalam Alquran cerita Nabi Musa merupakan kisah yang
panjang, misalnya, bisa dibaca dalam Surat Al Baqarah dan Ali Imran.
(https://groups.google.com/forum/#!topic/soc.culture.indonesia/ErxYrM2P6E4


Wah kalo udah baca yang beginian, justru malah bikin gue makin penasaran. Walaupun agak kesel juga sih kenapa Tuhannya, atau menurut perspektif saya, Allahnya, harus ditampilin segala? Akhirnya gue pun memutuskan untuk nonton saja tapi sambil wanti-wanti juga kalo udah ada tanda-tanda scene Tuhan bakal nongol.


Nah, sekarang gue mau mengkritisi keputusan Pak Syamsi Ali dari artikel di atas.

Menurut saya, emang kontroversial sih film-film berbau kayak gini di Indonesia, yang mayoritasnya beragama Islam. Soalnya menyangkut agama tapi diprosesnya sama orang Hollywood. Tapi ga bisa dipungkiri, keputusan Pak Syamsi ini pasti juga di"cuih"in sama beberapa orang Indonesia, terutama yang nonmuslim atau yang muslim tapi woles-woles aja. Wajar sih sebenarnya. Soalnya esensi film itu menurut gue juga bagus. Mau berbagi cerita soal nabi dan dikemasnya cantik pula. Pakai lagu-lagu musikal enak dan gambar yang (ga diragukan lagi) berkualitas. Itu yang jadi poin plus nya. Tapi yang jadi poin minusnya lebih banyak sih menurut gue sebagai muslim hehe.

Lalu kalau udah tau poin minusnya banyak, kenapa tetep ditonton?
Mungkin dalam hati kalian bertanya begitu ya ke gue haha.

Karena gue pernah baca di blog orang yang gue kagumi. Orang pintar yang sesungguhnya adalah orang yang ga langsung menerima segala cekok-an. Istilahnya, dikritisi atau jangan langsung diterima mentah-mentah dulu. Hm maksudnya?

Contoh nih. Gue udah Islam semenjak gue lahir. Selama hidup gue dari lahir sampai sekarang, gue selalu dicekok-in ajaran-ajaran Islam terus dong pastinya, kayak solat, puasa sunnah, ngaji, dll. Dan gue cuma bisa menerima dan melakukannya.

Hm contoh lain deh. Budaya. Buat yang orang Jawa, pasti suka dicekokin segala kepercayaan kecil yang aneh-aneh. Misalnya, orang Jawa tuh harus ini, harus itu. Orang Jawa tuh harusnya kemayu dong. Harus lembut. ini itu babibu. Dan gue terima aja itu, begitu juga adat-adat Jawa yang lain. Gue terima, percaya, dan melakukan itu semua hanya karena gue telah "dilatih" dari kecil, bukan karena usaha gue sendiri. Nah that's the point!

Orang pintar yang sesungguhnya adalah yang mencari kebenaran menurut suara hati sendiri, atau yang tidak langsung menerima informasi yang dikasih ke dia begitu saja. Makanya kalo ngomongin beginian, gue selalu kagum sama Mualaf yang memeluk Islam karena kesadaran sendiri. Kesadaran sendiri, bo. Bukan gara-gara nikah, bo! Itu berarti usaha pencarian mereka pasti panjang dan ga mudah, kan? Harus banding-bandingin banyak kitab. Tiap hari pasti kerjaannya merenung-renung sendiri sambil berpikir.

Nah! Itu yang bikin gue tetap termotivasi untuk melihat film The Prince of Egypt ini. Gue gamau terlalu tertutup dengan agama lain. Gue mau terbuka sedikit. Mau tau sedikit soal perspektif mereka. Dan baru lah gue bandingkan dengan  perspektif gue dan Islam sendiri (yang pastinya Islam dong yang selalu lebih bener menurut gue). Intinya, gue cuma "ingin tahu" saja.


Tapi tetep. Yang namanya keingintahu-an jenis kayak gini, gue haruslah kuat dan mantap sama kepercayaan gue sendiri. Yah, intinya tetep selektif juga lah maksudnya.


Gue harus cepetin & tahan ga ngeliat scene Allahnya, harus tahan ga ngeliat scene yang kejadiannya belum jelas kebenarannya, yaitu scene saat sebelum Bani Israil mengasingkan diri, mereka disuruh Musa untuk menyembelih domba dan mengoles darahnya di pintu rumah mereka masing-masing, dan gue harus mencerna beberapa dialog atau penamaan di film itu dengan perspektif gue. Contoh: Di film itu, kaumnya Nabi Musa yang tertindas, disebutnya Yahudi. Padahal kan mereka sebenarnya (menurut Alquran) adalah kaum Bani Israil yang (saat itu) tertindas yang menganut agama yang Tauhid*. Bukan agama Yahudi**.

*Tauhid= sama saja dengan Islam. Yang menyembah 1 Tuhan semata saja, yaitu Allah. 
**= Tapi (menurut Alquran) sebagian dari mereka (Bani Israil) setelah merdeka dari Firaun, bakal mengkhianati Nabi Musa dan membelok-belokkan kitab Taurat. Dan.......TARA! Jadilah sebuah agama bernama Yahudi yang berlandaskan kitab Taurat. Hiks.. padahal Taurat yahudi yang sekarang itu udah diubah-ubah sama (yang dulunya) pengikutnya Nabi Musa (yang berkhianat) tersebut. Hiks jahat banget mereka-mereka golongan Bani Israil yang nge-khianatin itu.. Pasti Nabi Musa sakit hati benget. Padahal kan mereka adalah kaum yang paling banyak menyaksikan langsung mukjizat Allah dan Musa (tongkat berubah jadi ulat, Musa membelah lautan), tapi kenapa justru berpaling? :(

Nah mangkanya, tiap mereka disebut Yahudi, gue selalu mengganti sendiri di otak gue kalo itu "Bani Israil" bukan Yahudi. Terus tiap ada kata "Tuhan", gue juga harus mengganti dengan "Allah". Pokoknya begitu lah.
Kalian pasti nangkep lah maksud gue.


Hm.. Jadi kesimpulannya?

Kesimpulannya, keputusan yang ditetapkan Syamsir Ali menurut gue, Beliau pasti punya maksud yang baik kenapa The Prince of Egpyt tidak dia kehendaki ditayangkan di Indonesia. Beliau pasti cuma ingin mencegah kesesatan pikir massal aja buat Indonesia yang mayoritasnya umat muslim.

Nah, tapi kalau balik lagi ke individunya, itu hak individunya. Tak apa nonton film yang jelas ada pelecehan terhadap Islamnya gini. Yang penting adalah cari informasinya dulu tentang kelebihan dan kekurangan filmnya, lalu filter adegan, dialog, sebutan, istilah, atau gambar yang melecehkan itu, dan ambillah pelajaran apa pun dari filmnya.


In conclusion, nonton film jenis beginian diniatinnya harus buat BELAJAR. Belajar baik dari moral kisahnya sendiri, atau pun dari teknik, strategi ngisi-ngisi durasi, etc Hollywoodnya sendiri. Buat yang muslim, selain buat belajar, niatin juga buat memperkuat iman kita kepada Islam. Kita bisa tahu kekurangan atau kesalahan film/pemahaman Yahudi mengenai kisah Nabi Musa jika dibandingin dengan pemahaman Islam terhadap kisah Musa, kita bisa tahu juga pandangan Yahudi terhadap nabi utama mereka, dan bisa membantu kita juga untuk merenungkan seperti apa penyiksaan Firaun atau kondisi Mesir saat zaman nabi Musa secara lebih real.(di kartun ini sih, belum ada apa-apanya dibanding di imajinasi gue yang Firaunnya lebih kejam, lebih keji dan lebih berdarah dingin. Hiii~)

Oh iya satu lagi yang ga kalah penting. Buat yang muslim, kalo abis nonton film jenis begini, langsung baca kisah Nabi Musa sesungguhnya di Alquran ya! Supaya bisa langsung bandingin cerita di film dan di Alquran. Terus juga biar cerita yang dari Alquran lebih ngelekat di benak kita aja gitu kalo baca sumber kebenarannya persis setelah nonton sumber yang salah hehe.


Hehe itu aja sih sebenarnya yang pengen gue bahas. Sekian dan terima kasih. Kalau pendapat gue ada yang aneh, mungkin bisa dikritisi atau diluruskan, asal baik-baik aja yak ngomongnya. Thank You.


Oh iya, satu lagi. Islam juga mengakui Nabi Musa sebagai Nabi umat Islam kok. Karena seperti yang saya bilang tadi, Musa juga menyebarkan Tauhid kepada umatnya ;-) Jadi, buat para pemeluk nonmuslim, mentang-mentang kita selalu ngikutin sunnah Nabi terakhir kita, Nabi Muhammad, bukan berarti nabi-nabi sebelumnya seperti Ibrahim, Musa, Yakub, Daud, Sulaiman, Isa, dll bukan nabi kita juga. Menurut pandangan kami, semua nabi mengajarkan Tauhid (Islam). Lalu akhirnya disempurnakan aturannya di zaman Nabi Muhammad :-)


Terima kasih sekali lagi. Silakan komentar jika ada pendapat gue yang aneh :-)

Jumat, 08 Agustus 2014

Legalisasi Bunuh Diri? :My Point of View

Gatau ini gue salah apa benar. Gue merasa gue termasuk orang yang liberal. Gue suka kebebasan. Gue juga oke-oke aja ngeliat orang lain ngelakuin apa. Entah apa gue terlalu cuek, atau gue erlalu banya baca-baca dan kepo-kepo tentang Amerika Serikat (yang liberal bangeeettt dan I like that) atau apa. Tapi yang jelas, apapun yang orang lain lakukan gue hargai aja jika itu memang baik untuknya atau ga membahayakan umat manusia. Kalau pun jelek juga ya terserah dia. Tapi, sebelum melakukan hal jelek itu, sebaiknya sampaikan pendapat kita tentang dampak -dampak dan resiko apa saja jika orang tersebut melakukan hal jelek yang dimaksudkan.

Bingung? Gak sama.

Sebenarnya alasan gue nulis ini adalah karena kasus Ryan (anak UI) yang depresi  dan pengen nyuntik mati dirinya sendiri dan sekaligus meminta legalisasi bunuh diri secara hukum.

Gue bahkan baru tahu loh kalau bunuh diri itu ilegal secara hukum pidana, kirain ilegal secara islam aja. Lah lagian aneh banget.

Karena itu aneh banget gue pun nanya ke bapak gue,
   "Lah kok bisa sih bunuh diri itu ilegal dan ada hukum UUD nya? Emang entar yang diadili siapa? Keluarga     dan orang-orang terdekatnya kah?"

Terus bapak gue jawab, "Lah ya pelakunya lah"

"Lah yang mati?"

"Iya, Tapi dihukumnya kalau bunuh dirinya gagal (masih hidup). Kalau berhasil mah ya ngga nge-hukum siapa-siapa"

"Oh gitu, Wkwk kocak banget. Kasian dong kalo ga berhasil, makin stres aja itu diadilin wkwk -_-"


Tapi yang bikin lebih aneh itu si Ryannya sendiri menurut gue sih. Ngapain minta legalisasi gituan kalau bener-bener bulat pengen mati tok. Itu mahh keinginan bunuh dirinya masih setengah-setengah! Hehe paham maksud gue ga? Sejalan sama gue ga? ._.

Maksud gue, kalau emang serius ingin bunuh diri harusnya ga permasalahin itu legal atau ilegal. Jalankan saja! Just do it. Selesai kan? Nah mangkanya dari sini, gue simpulin bahwa niat ingin mati si Ryan ini masih belum bulat alias masih ada sedikit keinginan dia untuk tetap hidup atau bertahan. Se-gak-waras tingkat apapun dia sekarang... Soalnya kalau emang pengen nge-akhirin hidup, seharusnya gak perlu susah-susah mengajukan legalisasi bunuh diri di Indonesia. Apalagi sampai seluruh Indonesia tahu (beritanya) lagi!

Bener kata penyiarnya. Ini yang dipermasalahkan masih rancu. Apakah bunuh dirinya atau Eutanasianya yang dimaksud ingin dilegalkan.

Tapi yang jelas, menurut orang kesehatan kayak saya, Eutanasia udah pasti ga boleh! Karena itu mati yang menyiksa. Kasian kalau sekarat.

Tapi kalau bunuh dirinya sih itu terserah orangnya. Menurut saya ga penting legal atau ilegalnya. Yang jelas kalau dalam Islam itu clearly GAKBOLEH. Tapi itu semua balik lagi ke keputusan yang bersangkutan mau mengakhiri hidupnya kayak apa. Karena dimana-mana adanya memperjuangkan hak untuk hidup, bukan hak untuk mati. Jadi ya bebas aja lah menurut saya. Haha kalau ngomong bebas jadi balik lagi kan ke liberal. (Itulah latar belakang gue menulis ini).



Cuman yang jadi kewajiban kita adalah: jika kita orang-orang dekat, sebaiknya dibantu atau berikan motivasi atau apapun lah yang secara langsung atau tidak langsung bisa mencegahnya untuk melakukan suicide. Singkatnya bantu redamkan depresinya. Kalau kita saudara kandungnya ya bantulah dengan finansial jika mampu. Btw keluarganya Ryan pada kemana itu yak. Untuk yang ga dekat tapi berkesempatan ngomong, juga bisa bnantu redam depresinya dengan memberi semangat atau apa lah yang masih dalam sopan santun dan tentunya membantu secara psikologi.

Yang jelas dari peristiwa pengajuan suicide ini, gue yakin, dalam hati kecil Ryan, masih ada keraguan untuk membunuh dirinya sendiri. Tapi itu masih belum jadi akhir cerita Ryan kok. Siapa tau dia masih diberi kesempatan untuk mendapat hidayah haha. Gak kayak Ryan-ryan di kasus lain (yang waria, pembunuh berantai dsb) wkwkwkwk.

Yang jelas. Amar maruf Nahi munkar penting. Bahkan sampai titik puncaknya (dalam konteks ini umpama: masih harus mencegah saat kita tau dia/orang bersangkutan sudah berdiri di tepi atap gedung). Tapi jika usaha yang kita lakukan sia-sia, yasudahlah. Itu pilihan dia. Menurut dia itu yang terbaik. Bebas. Yang jelas ingatkan saudara-saudara kita jika mereka khilaf dan sampaikan dengan baik. Dengan baik loh ya. Jangan kayak orang Islam yang suka komen-komen kasar, nyampah, dan justru-mengotori-islam-bgt di artikel tentang Isa al Masih atau konflik Palestina-Israel (itu cuma contoh, dan biasanya sih bener aja ada muslim yang komen-komen kasar dan asal merendahkan agama lain di artikel kayak di atas. Banyak malah..)


Yang jelas jangan cuma bisa komen dengan kebun biantang dan menghina agama lain saja. Itu mah, sama aja ngeledek dan bikin malu agama sendiri. Bikin malu gue. Bikin malu umat Islam lain. Bikin malu Rasulullah. Emang sudah melakukan apa untuk memajukan Islam? (pertanyaan besar juga buat gue, yang sedang dalam proses untuk bsa menjawabnya dengan lantang dan bangga :) )