Tadi siang menjelang sore, gue lagi ngubek-ngubek jadwal film di HBO. Lagi bosen dan pengen nonton sesuatu. Lalu gue lihat ada film berjudul The Prince of Egypt. Sinopsisnya menceritakan kartun musikal mengenai kisah hidup Nabi Musa gitu.
Karena penasaran, gue pun setel aja. (Perhatian: gue pake TV kabel Groo*via TV yang punya kelebihan di rekamannya, makanya gue bisa nonton program tv apa pun yang udah seminggu kelewatan).
Dan dugaan gue bener. Film itu polesan film Hollywood, soalnya yang nge-produksi itu Dreamworks dan tipe gambarnya mirip banget sama tipe Pocahontas gitu. Nih kalo ga percaya, gue punya gambarnya.
Mirip kan? (udah bilang aja mirip)
Gue sempet dilema gitu. Tonton ga ya.. Soalnya takut menyesatkan (ini sih pasti, soalnya kan Hollywood), tapi di sisi lain gue pengen tahu juga kisah Nabi Musa menurut referensi mereka (Yahudi atau Amerika ataupun pembuat cerita nya sendiri).
Akhirnya gue pun nonton deh hehe. Tapi, selama nonton pun, gue juga sempet pause-pause-in juga buat browsing mengenai film ini. Ini demi mencegah gue melihat adegan yang ga diinginkan, contoh: kalo ada scene yang memperlihatkan wujud Allah ala mereka, gue bisa tutup mata dan cepetin filmnya.
Gue pun brosing. Dan gue pun menemukan artikel yang berbunyi:
Republika Online edisi:
02 Feb 1999
Film The Prince of Egypt dan The Siege Lecehkan Islam
NEW YORK -- Masih saja ada kalangan masyarakat Barat yang menjadikan Islam
sebagai sasaran pelecehan. Bukan cuma di arena politik dan ekonomi, melainkan
juga hiburan. Yang terakhir ini terbukti dengan beredarnya dua film produksi
Hollywood -- The Prince of Egypt dan The Siege -- yang menyudutkan Islam.
sebagai sasaran pelecehan. Bukan cuma di arena politik dan ekonomi, melainkan
juga hiburan. Yang terakhir ini terbukti dengan beredarnya dua film produksi
Hollywood -- The Prince of Egypt dan The Siege -- yang menyudutkan Islam.
Atas dasar itu, H Syamsi Ali, seorang cendekiawan Muslim asal Indonesia di New
York, AS, dua hari lalu (31/1) mengusulkan agar Badan Sensor Film (BSF)
melarang pemutaran film The Siege dan The Prince of Egypt di Indonesia.
Alasannya, menurut Syamsi, karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama
Islam.
York, AS, dua hari lalu (31/1) mengusulkan agar Badan Sensor Film (BSF)
melarang pemutaran film The Siege dan The Prince of Egypt di Indonesia.
Alasannya, menurut Syamsi, karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama
Islam.
Syamsi menambahkan masyarakat Islam AS yang tergabung dalam Dewan Hubungan
Islam-Amerika (CAIR) juga telah menentang peredaran kedua film tersebut. Di
luar AS, Pemerintah Malaysia dan Maladewa juga telah mengeluarkan larangan
beredarnya /The Prince of Egypt.
Menurut Syamsi Ali, jalan cerita film tersebut menghujat Islam. Kini keduaIslam-Amerika (CAIR) juga telah menentang peredaran kedua film tersebut. Di
luar AS, Pemerintah Malaysia dan Maladewa juga telah mengeluarkan larangan
beredarnya /The Prince of Egypt.
film itu tengah diputar di bioskop-bioskop AS, dan sedang diekspor ke
mancanegara.
Dalam The Prince of Egypt, yang jadi persoalan adalah digambarkannya
tokoh Nabi Musa. Padahal, Islam melarang penggambaran visual para nabi, apa
lagi Tuhan.
tokoh Nabi Musa. Padahal, Islam melarang penggambaran visual para nabi, apa
lagi Tuhan.
Prince of Egypt memang menceritakan riwayat Nabi Musa yang divisualkan mulai
dari bayi merah sampai remaja dan menjadi pemimpin Bani Israel, cikal bakal
Umat Yahudi. ''Ini prinsip kaidah Islam yang dilanggar film The Prince of
Egypt,'' tegas Syamsi Ali yang bekerja di Perwakilan Tetap RI untuk PBB itu.
dari bayi merah sampai remaja dan menjadi pemimpin Bani Israel, cikal bakal
Umat Yahudi. ''Ini prinsip kaidah Islam yang dilanggar film The Prince of
Egypt,'' tegas Syamsi Ali yang bekerja di Perwakilan Tetap RI untuk PBB itu.
Selain itu, Syamsi juga mencium propaganda kaum Yahudi di balik film tersebut.
The Prince of Egypt dinilai Syamsi mempunyai agenda untuk menokohkan Musa
sebagai pemimpin Yahudi, bukannya sebagai nabi yang memperjuangkan moralitas
dan menegakkan ajaran Tuhan.
The Prince of Egypt dinilai Syamsi mempunyai agenda untuk menokohkan Musa
sebagai pemimpin Yahudi, bukannya sebagai nabi yang memperjuangkan moralitas
dan menegakkan ajaran Tuhan.
''Film itu hendak menggambarkan bahwa Yahudi-lah pemimpin dunia, dan umat-umat
yang lain adalah hamba atau budaknya. Ini doktrin Yahudi yang secara rapi
diselipkan dalam film animasi Hollywood itu,'' cetus Syamsi Ali.
yang lain adalah hamba atau budaknya. Ini doktrin Yahudi yang secara rapi
diselipkan dalam film animasi Hollywood itu,'' cetus Syamsi Ali.
Menurut Syamsi Ali, Musa adalah nabi yang diakui oleh umat Islam. Bersama-sama
dengan nabi lainnya, Musa menjadi tokoh yang dihormati dan diteladani oleh
kaum Muslimin. Bahkan, dalam Alquran cerita Nabi Musa merupakan kisah yang
panjang, misalnya, bisa dibaca dalam Surat Al Baqarah dan Ali Imran.
(https://groups.google.com/forum/#!topic/soc.culture.indonesia/ErxYrM2P6E4dengan nabi lainnya, Musa menjadi tokoh yang dihormati dan diteladani oleh
kaum Muslimin. Bahkan, dalam Alquran cerita Nabi Musa merupakan kisah yang
panjang, misalnya, bisa dibaca dalam Surat Al Baqarah dan Ali Imran.
Wah kalo udah baca yang beginian, justru malah bikin gue makin penasaran. Walaupun agak kesel juga sih kenapa Tuhannya, atau menurut perspektif saya, Allahnya, harus ditampilin segala? Akhirnya gue pun memutuskan untuk nonton saja tapi sambil wanti-wanti juga kalo udah ada tanda-tanda scene Tuhan bakal nongol.
Nah, sekarang gue mau mengkritisi keputusan Pak Syamsi Ali dari artikel di atas.
Menurut saya, emang kontroversial sih film-film berbau kayak gini di Indonesia, yang mayoritasnya beragama Islam. Soalnya menyangkut agama tapi diprosesnya sama orang Hollywood. Tapi ga bisa dipungkiri, keputusan Pak Syamsi ini pasti juga di"cuih"in sama beberapa orang Indonesia, terutama yang nonmuslim atau yang muslim tapi woles-woles aja. Wajar sih sebenarnya. Soalnya esensi film itu menurut gue juga bagus. Mau berbagi cerita soal nabi dan dikemasnya cantik pula. Pakai lagu-lagu musikal enak dan gambar yang (ga diragukan lagi) berkualitas. Itu yang jadi poin plus nya. Tapi yang jadi poin minusnya lebih banyak sih menurut gue sebagai muslim hehe.
Lalu kalau udah tau poin minusnya banyak, kenapa tetep ditonton?
Mungkin dalam hati kalian bertanya begitu ya ke gue haha.
Karena gue pernah baca di blog orang yang gue kagumi. Orang pintar yang sesungguhnya adalah orang yang ga langsung menerima segala cekok-an. Istilahnya, dikritisi atau jangan langsung diterima mentah-mentah dulu. Hm maksudnya?
Contoh nih. Gue udah Islam semenjak gue lahir. Selama hidup gue dari lahir sampai sekarang, gue selalu dicekok-in ajaran-ajaran Islam terus dong pastinya, kayak solat, puasa sunnah, ngaji, dll. Dan gue cuma bisa menerima dan melakukannya.
Hm contoh lain deh. Budaya. Buat yang orang Jawa, pasti suka dicekokin segala kepercayaan kecil yang aneh-aneh. Misalnya, orang Jawa tuh harus ini, harus itu. Orang Jawa tuh harusnya kemayu dong. Harus lembut. ini itu babibu. Dan gue terima aja itu, begitu juga adat-adat Jawa yang lain. Gue terima, percaya, dan melakukan itu semua hanya karena gue telah "dilatih" dari kecil, bukan karena usaha gue sendiri. Nah that's the point!
Orang pintar yang sesungguhnya adalah yang mencari kebenaran menurut suara hati sendiri, atau yang tidak langsung menerima informasi yang dikasih ke dia begitu saja. Makanya kalo ngomongin beginian, gue selalu kagum sama Mualaf yang memeluk Islam karena kesadaran sendiri. Kesadaran sendiri, bo. Bukan gara-gara nikah, bo! Itu berarti usaha pencarian mereka pasti panjang dan ga mudah, kan? Harus banding-bandingin banyak kitab. Tiap hari pasti kerjaannya merenung-renung sendiri sambil berpikir.
Nah! Itu yang bikin gue tetap termotivasi untuk melihat film The Prince of Egypt ini. Gue gamau terlalu tertutup dengan agama lain. Gue mau terbuka sedikit. Mau tau sedikit soal perspektif mereka. Dan baru lah gue bandingkan dengan perspektif gue dan Islam sendiri (yang pastinya Islam dong yang selalu lebih bener menurut gue). Intinya, gue cuma "ingin tahu" saja.
Tapi tetep. Yang namanya keingintahu-an jenis kayak gini, gue haruslah kuat dan mantap sama kepercayaan gue sendiri. Yah, intinya tetep selektif juga lah maksudnya.
Gue harus cepetin & tahan ga ngeliat scene Allahnya, harus tahan ga ngeliat scene yang kejadiannya belum jelas kebenarannya, yaitu scene saat sebelum Bani Israil mengasingkan diri, mereka disuruh Musa untuk menyembelih domba dan mengoles darahnya di pintu rumah mereka masing-masing, dan gue harus mencerna beberapa dialog atau penamaan di film itu dengan perspektif gue. Contoh: Di film itu, kaumnya Nabi Musa yang tertindas, disebutnya Yahudi. Padahal kan mereka sebenarnya (menurut Alquran) adalah kaum Bani Israil yang (saat itu) tertindas yang menganut agama yang Tauhid*. Bukan agama Yahudi**.
*Tauhid= sama saja dengan Islam. Yang menyembah 1 Tuhan semata saja, yaitu Allah.
**= Tapi (menurut Alquran) sebagian dari mereka (Bani Israil) setelah merdeka dari Firaun, bakal mengkhianati Nabi Musa dan membelok-belokkan kitab Taurat. Dan.......TARA! Jadilah sebuah agama bernama Yahudi yang berlandaskan kitab Taurat. Hiks.. padahal Taurat yahudi yang sekarang itu udah diubah-ubah sama (yang dulunya) pengikutnya Nabi Musa (yang berkhianat) tersebut. Hiks jahat banget mereka-mereka golongan Bani Israil yang nge-khianatin itu.. Pasti Nabi Musa sakit hati benget. Padahal kan mereka adalah kaum yang paling banyak menyaksikan langsung mukjizat Allah dan Musa (tongkat berubah jadi ulat, Musa membelah lautan), tapi kenapa justru berpaling? :(
Nah mangkanya, tiap mereka disebut Yahudi, gue selalu mengganti sendiri di otak gue kalo itu "Bani Israil" bukan Yahudi. Terus tiap ada kata "Tuhan", gue juga harus mengganti dengan "Allah". Pokoknya begitu lah.
Kalian pasti nangkep lah maksud gue.
Hm.. Jadi kesimpulannya?
Kesimpulannya, keputusan yang ditetapkan Syamsir Ali menurut gue, Beliau pasti punya maksud yang baik kenapa The Prince of Egpyt tidak dia kehendaki ditayangkan di Indonesia. Beliau pasti cuma ingin mencegah kesesatan pikir massal aja buat Indonesia yang mayoritasnya umat muslim.
Nah, tapi kalau balik lagi ke individunya, itu hak individunya. Tak apa nonton film yang jelas ada pelecehan terhadap Islamnya gini. Yang penting adalah cari informasinya dulu tentang kelebihan dan kekurangan filmnya, lalu filter adegan, dialog, sebutan, istilah, atau gambar yang melecehkan itu, dan ambillah pelajaran apa pun dari filmnya.
In conclusion, nonton film jenis beginian diniatinnya harus buat BELAJAR. Belajar baik dari moral kisahnya sendiri, atau pun dari teknik, strategi ngisi-ngisi durasi, etc Hollywoodnya sendiri. Buat yang muslim, selain buat belajar, niatin juga buat memperkuat iman kita kepada Islam. Kita bisa tahu kekurangan atau kesalahan film/pemahaman Yahudi mengenai kisah Nabi Musa jika dibandingin dengan pemahaman Islam terhadap kisah Musa, kita bisa tahu juga pandangan Yahudi terhadap nabi utama mereka, dan bisa membantu kita juga untuk merenungkan seperti apa penyiksaan Firaun atau kondisi Mesir saat zaman nabi Musa secara lebih real.(di kartun ini sih, belum ada apa-apanya dibanding di imajinasi gue yang Firaunnya lebih kejam, lebih keji dan lebih berdarah dingin. Hiii~)
Oh iya satu lagi yang ga kalah penting. Buat yang muslim, kalo abis nonton film jenis begini, langsung baca kisah Nabi Musa sesungguhnya di Alquran ya! Supaya bisa langsung bandingin cerita di film dan di Alquran. Terus juga biar cerita yang dari Alquran lebih ngelekat di benak kita aja gitu kalo baca sumber kebenarannya persis setelah nonton sumber yang salah hehe.
Hehe itu aja sih sebenarnya yang pengen gue bahas. Sekian dan terima kasih. Kalau pendapat gue ada yang aneh, mungkin bisa dikritisi atau diluruskan, asal baik-baik aja yak ngomongnya. Thank You.
Oh iya, satu lagi. Islam juga mengakui Nabi Musa sebagai Nabi umat Islam kok. Karena seperti yang saya bilang tadi, Musa juga menyebarkan Tauhid kepada umatnya ;-) Jadi, buat para pemeluk nonmuslim, mentang-mentang kita selalu ngikutin sunnah Nabi terakhir kita, Nabi Muhammad, bukan berarti nabi-nabi sebelumnya seperti Ibrahim, Musa, Yakub, Daud, Sulaiman, Isa, dll bukan nabi kita juga. Menurut pandangan kami, semua nabi mengajarkan Tauhid (Islam). Lalu akhirnya disempurnakan aturannya di zaman Nabi Muhammad :-)
Terima kasih sekali lagi. Silakan komentar jika ada pendapat gue yang aneh :-)
Bagus kak artikelnya
BalasHapus