Jumat, 08 Agustus 2014

Legalisasi Bunuh Diri? :My Point of View

Gatau ini gue salah apa benar. Gue merasa gue termasuk orang yang liberal. Gue suka kebebasan. Gue juga oke-oke aja ngeliat orang lain ngelakuin apa. Entah apa gue terlalu cuek, atau gue erlalu banya baca-baca dan kepo-kepo tentang Amerika Serikat (yang liberal bangeeettt dan I like that) atau apa. Tapi yang jelas, apapun yang orang lain lakukan gue hargai aja jika itu memang baik untuknya atau ga membahayakan umat manusia. Kalau pun jelek juga ya terserah dia. Tapi, sebelum melakukan hal jelek itu, sebaiknya sampaikan pendapat kita tentang dampak -dampak dan resiko apa saja jika orang tersebut melakukan hal jelek yang dimaksudkan.

Bingung? Gak sama.

Sebenarnya alasan gue nulis ini adalah karena kasus Ryan (anak UI) yang depresi  dan pengen nyuntik mati dirinya sendiri dan sekaligus meminta legalisasi bunuh diri secara hukum.

Gue bahkan baru tahu loh kalau bunuh diri itu ilegal secara hukum pidana, kirain ilegal secara islam aja. Lah lagian aneh banget.

Karena itu aneh banget gue pun nanya ke bapak gue,
   "Lah kok bisa sih bunuh diri itu ilegal dan ada hukum UUD nya? Emang entar yang diadili siapa? Keluarga     dan orang-orang terdekatnya kah?"

Terus bapak gue jawab, "Lah ya pelakunya lah"

"Lah yang mati?"

"Iya, Tapi dihukumnya kalau bunuh dirinya gagal (masih hidup). Kalau berhasil mah ya ngga nge-hukum siapa-siapa"

"Oh gitu, Wkwk kocak banget. Kasian dong kalo ga berhasil, makin stres aja itu diadilin wkwk -_-"


Tapi yang bikin lebih aneh itu si Ryannya sendiri menurut gue sih. Ngapain minta legalisasi gituan kalau bener-bener bulat pengen mati tok. Itu mahh keinginan bunuh dirinya masih setengah-setengah! Hehe paham maksud gue ga? Sejalan sama gue ga? ._.

Maksud gue, kalau emang serius ingin bunuh diri harusnya ga permasalahin itu legal atau ilegal. Jalankan saja! Just do it. Selesai kan? Nah mangkanya dari sini, gue simpulin bahwa niat ingin mati si Ryan ini masih belum bulat alias masih ada sedikit keinginan dia untuk tetap hidup atau bertahan. Se-gak-waras tingkat apapun dia sekarang... Soalnya kalau emang pengen nge-akhirin hidup, seharusnya gak perlu susah-susah mengajukan legalisasi bunuh diri di Indonesia. Apalagi sampai seluruh Indonesia tahu (beritanya) lagi!

Bener kata penyiarnya. Ini yang dipermasalahkan masih rancu. Apakah bunuh dirinya atau Eutanasianya yang dimaksud ingin dilegalkan.

Tapi yang jelas, menurut orang kesehatan kayak saya, Eutanasia udah pasti ga boleh! Karena itu mati yang menyiksa. Kasian kalau sekarat.

Tapi kalau bunuh dirinya sih itu terserah orangnya. Menurut saya ga penting legal atau ilegalnya. Yang jelas kalau dalam Islam itu clearly GAKBOLEH. Tapi itu semua balik lagi ke keputusan yang bersangkutan mau mengakhiri hidupnya kayak apa. Karena dimana-mana adanya memperjuangkan hak untuk hidup, bukan hak untuk mati. Jadi ya bebas aja lah menurut saya. Haha kalau ngomong bebas jadi balik lagi kan ke liberal. (Itulah latar belakang gue menulis ini).



Cuman yang jadi kewajiban kita adalah: jika kita orang-orang dekat, sebaiknya dibantu atau berikan motivasi atau apapun lah yang secara langsung atau tidak langsung bisa mencegahnya untuk melakukan suicide. Singkatnya bantu redamkan depresinya. Kalau kita saudara kandungnya ya bantulah dengan finansial jika mampu. Btw keluarganya Ryan pada kemana itu yak. Untuk yang ga dekat tapi berkesempatan ngomong, juga bisa bnantu redam depresinya dengan memberi semangat atau apa lah yang masih dalam sopan santun dan tentunya membantu secara psikologi.

Yang jelas dari peristiwa pengajuan suicide ini, gue yakin, dalam hati kecil Ryan, masih ada keraguan untuk membunuh dirinya sendiri. Tapi itu masih belum jadi akhir cerita Ryan kok. Siapa tau dia masih diberi kesempatan untuk mendapat hidayah haha. Gak kayak Ryan-ryan di kasus lain (yang waria, pembunuh berantai dsb) wkwkwkwk.

Yang jelas. Amar maruf Nahi munkar penting. Bahkan sampai titik puncaknya (dalam konteks ini umpama: masih harus mencegah saat kita tau dia/orang bersangkutan sudah berdiri di tepi atap gedung). Tapi jika usaha yang kita lakukan sia-sia, yasudahlah. Itu pilihan dia. Menurut dia itu yang terbaik. Bebas. Yang jelas ingatkan saudara-saudara kita jika mereka khilaf dan sampaikan dengan baik. Dengan baik loh ya. Jangan kayak orang Islam yang suka komen-komen kasar, nyampah, dan justru-mengotori-islam-bgt di artikel tentang Isa al Masih atau konflik Palestina-Israel (itu cuma contoh, dan biasanya sih bener aja ada muslim yang komen-komen kasar dan asal merendahkan agama lain di artikel kayak di atas. Banyak malah..)


Yang jelas jangan cuma bisa komen dengan kebun biantang dan menghina agama lain saja. Itu mah, sama aja ngeledek dan bikin malu agama sendiri. Bikin malu gue. Bikin malu umat Islam lain. Bikin malu Rasulullah. Emang sudah melakukan apa untuk memajukan Islam? (pertanyaan besar juga buat gue, yang sedang dalam proses untuk bsa menjawabnya dengan lantang dan bangga :) )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar